(dikutip dari: Herman Hermit, 2007, FUN Di Kampus Impian, Penerbit PT Remaja Rosdakarya, Bandung)

Mengapa Mesti Kuliah?
Seorang mahasiswa bertanya kepada seorang dosennya yang profesor, “Prof, perguruan tinggi itu apa sih?”
Sang dosen menjawab, “Perguruan tinggi itu cuma bisa dijelaskan kalau kamu keluar dulu dari kampus!”
(Anonim)
Kayak keinginan kita untuk nonton film di bioskop atau live show anak-anak band kesayangan kita, mampu nggak mampunya membeli “tiket” masuk perguruan tinggi alias kuliah memang bukan masalah hidup-mati kita. Lagian, tempat dan waktu belajar bisa di mana dan kapan saja. Kita bisa saja kuliah setelah kita punya penghasilan sambil berkeluarga nanti. So, kita nggak usah kuatir berlebihan soal kapan kita bisa start kuliah. Banyak profesor dan doktor sekarang dulunya start kuliah setelah mereka punya pasangan hidup, anak dan tentu saja mertua. Eh, malah siapa tahu mertua bisa jadi sponsor kuliah kamu.
Kapanpun kita start kuliah yang jelas belajar di perguruan tinggi bakal jadi persiapan yang baik untuk mengantarkan kita ke kehidupan masa mendatang. William B. Johnston dan Arnold H. Packer dalam Colin Rose (2002) bilang kalau seabad yang lalu tamat SMA dianggap terlalu mewah buat para pekerja biasa dan gelar sarjana cuma dibutuhkan buat para akademisi atau pengacara saja. Sekarang, untuk pertama kali dalam sejarah, kebanyakan pekerjaan baru minta yang tamat pendidikan pascasarjana. Jadinya nggak mengherankan kalau para sarjana sekarang malah banyak yang jadi (sorry ini parodi) ”pengacara” alias ”pengangguran banyak acara”.
Hasil penelitian Denis Evan dalam Jalaluddin Rakhmat (2005) membuktikan kalau makin sedikit pendidikan formal yang diperoleh, makin besar penurunan mental, tanpa memperhatikan usia, tempat lahir, pekerjaan, pendapatan, atau bahasa yang digunakan. Pantas saja kalau para profesor biasanya lama banget sampai ke masa pikunnya. Tapi sebetulnya yang bikin awet muda otak kita, menurut hasil kutak-katik para ahli otak modern, adalah banyak mikir alias otak yang lebih sering dipakainya ketimbang tidurnya.
Soal ukuran isi dompet agar bisa mengongkosi kuliah, itu memang relatif. Meskipun isi dompet ortu kita paspasan, tapi ortu dan kita sendiri ngotot pengin kuliah, saran yang terbaik adalah: ambil kesempatan kuliah. Yang penting kita dan ortu punya keinginan kuat, sekuat besi atau baja.
Percaya nggak percaya, tapi ini orisinal hasil suatu penelitian penulis di kawasan kampus di Jatinangor kalau ternyata semakin sedikit jumlah rupiah kiriman ortu kepada si mahasiswa malah semakin tinggi prestasi akademik si mahasiswa tersebut! Si mahasiswa yang bersangkutan pun malah lebih kreatif dengan mencari dana tambahan melalui kerja sampingan. So, modal penting banget buat kita kuliah adalah seberapa kuat keinginan kita sendiri.
Biasanya orang baru punya keinginan yang kuat kalau dia sudah punya tujuan dan sasaran serta manfaat yang jelas dari apa yang diinginkannya. Jadi, nggak ada salahnya kita merenung sebentar dan jawab pertanyaan berikut, mengapa mesti kuliah?
No comments:
Post a Comment