Thursday, 5 March 2009

A History in the making

Oleh Herman Hermit

A History in the making
“Orang yang nggak pernah gagal boleh jadi ialah orang yang nggak pernah melaksanakan gagasannya.”
(Albert Einstein, fisikawan jenius asal Jerman)

“Mengingat begitu banyak yang mesti kukerjakan
sepanjang waktu setiap hari, aku memerlukan waktu satu jam untuk memulainya dengan berdoa”
(Martin Luther King, pahlawanan perjuangan persamaan hak kaum negro di Amerika Serikat)

Siapa sih yang nggak kenal nama Albert Einstein si jenius fisika yang bertampang nyentrik dengan hairstyle gondrong ekstra acak-acakan, tapi amat rapi dalam cara berpikir dan berlogika. Jangan kamu kira si jenius ini nggak pernah gagal. Konon puluhan bahkan bisa sampai ratusan kegagalan sudah biasa dalam percobaan-percobaannya mengenai suatu hal yang ngotot pengin dia ciptakan. Naskah novel Harry Potter saja sebelumnya pernah ditolak puluhan penerbit, sebelum J.K. Rowling si penulis akhirnya menemukan juga sebuah penerbit yang bersedia menerbitkan karyanya itu. Coba kalau Einstein ataupun Rowling gampangan menyerah pada saat ketiga atau kesekian puluh kalinya gagal dalam percobaan atau usahanya itu, mungkin mereka tidak akan beken dan tercatat dalam sejarah dunia saat ini.
Dari sedikit pengalaman penulis dalam beberapa kali memenangkan lomba menulis (puisi dan prosa) juga negasin kalau nggak ada karya bermutu yang bisa sekali jadi dalam prosesnya kayak bikin pisang goreng murahan di jajanan pinggir jalan. Kegagalan dan karenanya usaha perbaikan sana-sini itu sendiri bukanlah suatu kebuntuan, tapi sudah jadi rumus dalam berproses kreatif. Aku ‘ainul yaqin kalau Beethoven, Mozart dan Sebastian Bach pun nggak pernah sekali jadi dalam menggubah karya-karya musiknya itu.
Bayang-bayang kegagalan sebelum usaha demi usaha atau percobaan demi percobaan dilakukan memang seringkali menakutkan, mengerutkan nyali, mengerdilkan niat. Tapi ternyata, sesering munculnya perasaan ngeri seperti itu, pengalaman orang-orang yang menyejarah membuktikan kalau apa-apa yang kita takutkan itu malah ternyata adalah apa yang paling bernilai atau berharga bagi kita. Sejarah memang dibuat atau terdiri dari orang-orang yang lolos dan lulus uji nyali: melawan bayang-bayang ketakutan sebelum usahanya berhasil.
Juga siapa yang meragukan Marthin Luther King sebagai pahlawan nasional Amerika Serikat? Orang-orang Amrik yang negro kini punya hak dan kewajiban yang sama dengan warga amrik lainnya nggak lain berkat sang pahlawan intelektual itu. Bagi mereka, King kayak Soekarno-Hatta di Indonesia yang bebasin belenggu rakyat dari penjajah. King, ternyata bukan hanya contoh manusia yang punya resep buat menghadapi bayang-bayang ketakutan sebelum menuai hasil usahanya. Tapi juga sekaligus punya keyakinan religius yang amat kuat. Keyakinan kepada Tuhan baginya adalah sumber inspirasi dan sumber tenaga, sekaligus obat kuat buat melawan bayang-bayang ketakutan.
Baginya, justru lantaran hari-harinya bakal disibukkan sehingga nggak bakalan punya waktu sedikitpun buat ngecharge daya di tengah jalan setiap harinya, maka dia ngerasa “wajib” buat memohon sumber kekuatan itu kepada Tuhannya sebelum memulai aktivitas rutinnya. King negasin kalo berdoa adalah start yang baik untuk memulai rutinitas yang penuh tantangan dan kayak biasa bakalan nguras tenaga, energi dan waktu.
Sebuah pepatah-petitih impor bilang, a good start is a half has been done, “Langkah awal yang baik, ibarat separuh usaha telah diselesaikan.” Kamu, dan tiap orang, mungkin punya cara yang berbeda-beda dalam bikin langkah awal yang baik setiap harinya. Rangkaian kegiatan rutin kita inilah yang sejatinya merajut keberhasilan mencapai suatu tujuan. Terlepas pencapaian tujuan kita itu bernilai sejarah atau tidak bagi dunia. Yang jelas sekurang-kurangnya bakal dikenang dan jadi sumber pelajaran buat anak-cucu-cicit kita nanti. Tiap orang pada dasarnya adalah invidu pelaku sejarah di arena kehidupan ini.
Kita nggak perlu nunggu ahli sejarah ngomong kalo orang mesti bercermin kepada pengalaman. Pengalaman sendiri ataupun pengalaman orang-orang lain. Itu sudah jadi pengetahuan umum, meskipun jarang kita pahami. Dalam bahasa seriusnya disebut “mengambil pelajaran dari sejarah”. Manfaatnya, dalam bahasa nggak kalah seriusnya juga, konon agar kita arif-bijaksana duluan sebelum melangkah lebih jauh ke depan dalam ngejalani kehidupan kita.
By the way, setiap tarikan nafas dan langkah-langkah sekecil apa pun dalam kehidupan pribadi seseorang sejatinya adalah sebuah perjalanan sejarah pribadi kita yang sedang kita buat. A History in the making, sejarah itu lagi kita bikin. Cerita apa yang kita lakonkan buat diwariskan, tragedi gaya Yunani ataukah romantisme gaya Romawi yang tentunya saling melengkapi cerita, dan happy ending ataukah sad ending di ujung cerita, sejatinya nggak perlu jadi persoalan, namanya juga sejarah.....terjadi dalam ruang kehidupan yang tentunya tidak hitam-putih, tapi colorful. Yang jelas, cerita dan lakon mesti sedang berlangsung dan terus berlanjut, the story must go on.
Berhubung Mesin Waktu (time machine) cuma ada dalam dongeng film-film fantasi-ilmiah gaya Holly Wood, maka setiap bidikan atau snapshot dan rekaman moving picture kehidupan pribadi kita nggak bisa diulang atau di-rewind. Apakah sepanjang alur cerita kehidupan kita mesti memperlihatkan perjalanan usaha kita jadi orang beken atau orang kaya? Sebelum ngejawab pertanyaan ini baiknya kita merenung apa manfaatnya bagi diri sendiri kalau jadi orang terkenal atau orang kaya? Kaya atau beken nggak ngejamin hidup bahagia, lho. Lagian Picasso, Mozart, Rembrandt, Shakespeare baru beken setelah lama mereka meninggal. Paling-paling kesenangan yang berlangsung bersamaan dengan masalah yang disebabkan oleh kesenangan itu sendiri. Mendingan jadi orang yang full manfaat buat lingkungan kita ketimbang bernafsu jadi orang beken tapi nggak enjoy. Luther King atau Bung Karno pun sebetulnya nggak niat jadi orang beken, tapi sejarahlah yang menobatkan dia jadi orang beken kaliber dunia. Mereka cuma mikir, apa yang bisa dia perbuat untuk lingkungannya.
Kita sering dengar cerita bagaimana orang-orang beken menjadi nggak punya lagi ruang kehidupan yang privasi. Nggak bisa lagi rileks di tengah kerumanan orang yang selalu merubunginya, termasuk paparazi yang selalu menguntit dan membidikkan kamera. Demikian juga orang-orang kaya, seringkali kelihatan stress bagaimana menyelamatkan hartanya dari orang-orang yang selalu mendekatinya dengan aneka rayuan atau tipu muslihat. Belum lagi petugas pajak dan berbagai yayasan sosial selalu nilpon untuk bikin janjian ketemu. Kayaknya capek banget jadi orang terkenal atau kaya raya di balik topeng kehidupan senang-senang (happy life) yang semu . Kayaknya mereka malah sukar bisa enjoy alias bahagia. Kayak di film Rich and Famous yang dibintangi oleh Jaqualine Bisset dari Holly Wood itu.
Sebaliknya, orang-orang biasa yang malah tampak lebih berbahagia dan enjoy menikmati eloknya pantai Kuta saat sunset atau indahnya pantai Sanur saat-saat sunrise di Bali. Nah, sebelum para belia mutusin untuk berusaha mati-matian supaya jadi seleb alias orang beken atau orang kaya raya kelak, renungkanlah sekali lagi untung dan ruginya jadi beken atau kaya dengan bercermin kepada pengalaman orang-orang lain.
Sebuah novel sastra Jepang berjudul Kappa karya Ryunosuke Akutagawa (penerbit Pustaka jaya, 1975) menyindir habis-habisan kehidupan masyarakat Jepang yang teramat modern dan kaya-raya di satu sisi tapi diam-diam dalam kehidupan pribadi-pribadi mereka amat rawan terkena frustrasi dan depresi yang tak sedikit berakhir dengan bunuh diri. Cerita dalam Kappa mirip dengan cerita Rich and Famous ala film Holly Wood yang mengangkat kehidupan pribadi-pribadi beken dan kaya raya di kalangan selebriti Holly Wood. Makin beken atau kaya raya ternyata makin besar persentase kehidupan seseorang yang seolah menjadi milik orang-orang lain (penonton, fans, pesaing dan penggosip), bukannya miliknya sendiri. Perilaku dan apa pun yang dikenakannya mesti disesuaikan dengan cara pandang orang-orang lain atau selera para orang lain itu. Free will alias kebebasan berpandangan dan berpikirnya menjadi seolah-olah terpenjara. Ruang privasi pribadi semakin sempit dan akhirnya menyesakkan seolah siap mencekiknya setiap saat. Beda dengan orang-orang yang meski sibuk tapi niatannya untuk ngasih manfaat kepada lingkungan, pastilah tetap ngerasa plong, ringan dan enjoy. Ada nilai kepuasan yang nggak bisa diukur dengan uang atau popularitas semu.
Akutagawa menyamarkan nama masyarakat Jepang yang kaya raya dan amat modern itu sebagai masyarakat Kappa, masyarakat yang sesungguhnya merupakan himpunan pribadi-pribadi yang egois dan karenanya jadi nggak bahagia, malah tampak mengerikan. Sampai-sampai generasi masa depannya yang belum lahir pun protes dengan cara menolak untuk dilahirkan dari rahim mereka. Mari kita kutip sepenggalan ceritanya yang lucu tapi sesungguhnya amat tragis:
“Tetapi jika akhirnya sang bayi hampir keluar, ayahnya mendekatkan mulutnya pada perut isterinya dan bertanya dengan suara keras, ‘Apa kau ingin dilahirkan ke dunia ini? Pikir dulu dan berikan jawabanmu.’ Bayi yang di dalam rahim isterinya seperti ketakutan, sebab suara jawabannya hampa berbisik: ‘Aku tidak ingin dilahirkan. Pertama, karena aku tidak ingin mewarisi darahmu. Kegilaanmu sudah cukup mengerikan untuk memikirkannya. Kedua, karena aku yakin, kehidupan Kappa terlalu mengerikan.’”
So, gimana sekarang, sudahkah belia siap ngejawab lakon apa yang akan dimainkan dalam sisa kehidupanmu mendatang yang masih panjang terbentang? Bagaimana pun ceritamu mesti berlanjut terus, lho. Ingat saja pelajaran dari pohon, yang makin tinggi makin mengerikan kalau jatuh. Kayaknya itu yang kepikiran oleh orang-orang yang terlanjur terkenal atau kaya raya. Penulis sih lebih milih bahagia (enjoy life) ketimbang senang-senang (happy life) yang tak lain cuma kebahagian semu itu. Nah, pilihan sadar ada di tanganmu....tapi apa pun pilihanmu pastilah akan menentukan gaya hidupmu sekarang dan yang akan datang.***